Pernahkah anda…
Pernahkah anda merasa ketika dunia rasanya ingin menelan anda?
Anda begitu kecil.
Berusaha untuk melakukan sebuah usaha besar.
Yang ternyata, sebenarnya usaha tersebut sangatlah kecil.
Hingga akhirnya, dunia yang maharaksasa ini.
Menelan anda bulat-bulat.
Pernahkah anda merasa ketika apa yang anda inginkan tidak akan pernah bisa diraih walau anda sudah meloncat setinggi mungkin?
Anda telah berjuang sekuat yang anda bisa.
Mungkin hingga berlumuran keringat, darah, dan air mata.
Melawan semua godaan di dalam akal pikiran untuk menyerah dan menikmati kesengsaraan atas lemahnya tekad anda dalam menggapai sesuatu.
Anda tidak pernah berhenti dan tidak akan peduli dengan segala kritikan tak diinginkan yang dilontarkan orang lain.
Yang anda inginkan hanyalah sekedar kepuasan hati.
Tapi ternyata, memang keinginan anda itu tidak akan pernah bisa anda raih.
Pernahkan anda merasa ketika rasa iri menggelitik tenggorokan anda?
Menyaksikan sesuatu yang bisa didapatkan oleh orang lain, tetapi anda tidak pernah dapatkan.
Mendapatkan ketidakadilan perlakuan oleh manusia, dewi fortuna, ataupun makhluk lain yang ada di dunia ini.
Padahal yang anda inginkan hanyalah setidaknya sekali kesempatan untuk mendapatkan posisi yang sama.
Tapi, memang nyatanya, anda tidak akan pernah mendapatkan perlakuan yang sama.
Karena sebenarnya anda pamrih, dan orang lain bisa melihat kepamrihan dari apa yang anda kerjakan selama ini.
Pernahkan anda merasa ketika emosi melumuri sekujur tubuh anda?
Anda merasa kesal.
Sangat kesal.
Bahkan mengepalkan tangan dan menggeramkan rapat-rapat mulut anda tidaklah cukup untuk mengekspresikan kekesalan anda tersebut.
Ketika anda tidak peduli barang sebeharga apa yang ada di depan anda saat ini, dan anda ingin membantingnya keras-keras.
Ketika meninju dinding sekeras-kerasnya dan menangis sekencang-kencangnya tidak akan cukup untuk mengobati kekesalan anda tersebut.
Dan ketika, konklusi dari kemarahan yang melanda diri anda tersebut membuktikan bahwa tidak ada siapapun yang dapat anda salahkan kecuali diri anda sendiri.
Pernahkah anda merasa ketika semua rasa amarah tersebut telah menumpuk dan ingin meledak, tapi tiba-tiba semuanya itu lenyap begitu saja?
Ketika anda sudah siap untuk menyalahkan orang lain atas segala kekesalan yang anda terima.
Ketika anda sudah siap untuk menyatakan pernyataan perang kepada seribu serdadu di hadapan anda.
Dan tiba-tiba.
Dengan sekejap pikiran.
Anda sudah dapat menerima itu semua.
Anda sudah dapat memaafkan kekesalan itu dengan sendirinya.
Baik yang memang benar adanya kekesalan itu timbul atas kesalahan orang lain, maupun yang memang pada nyatanya anda lah yang menciptakan rasa kesal tersebut.
Berhasil mengalahkan ego, dan melenyapkannya dengan hanya sebuah tiupan angin yang tidak nyata.
Lalu, ketika anda tengah menutup mata anda untuk tertidur.
Sebersit pikiran pun menghantui pikiran anda.
Apakah semuanya itu benar untuk dilakukan?
Untuk merasa pesimis bahwa segala usaha dan perjuangan anda selama ini tidak akan pernah membuahkan hasil apa-apa?
Untuk merasa iri dengan kondisi beruntung yang dialami orang lain, sedangkan anda tidak?
Untuk merasa kesal dengan suatu hal sepele, baik yang dipicu oleh orang lain ataupun diri sendiri?
Untuk mehilangkan semua tumpukan kekesalan itu begitu saja, tidak pernah mengeluarkannya, mengganggap semua kekesalan itu sudah menghilang, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya rasa kesal tersebut hanya mengumpat dalam-dalam di pikiran anda, dan menanti saat dipicu kembali untuk membebani kepala anda dalam bentuk rasa kesal yang lebih besar karena belum pernah anda luapkan selama ini?
Memang terkadang realita itu kejam.
Tapi, lebih terkadang lagi, diri kita sendiri lah yang lebih kejam pada diri kita sendiri.
About this entry
You’re currently reading “Pernahkah anda…,” an entry on Continuous Stirred Tank Reactor
- Published:
- September 23, 2011 / 02:58
- Category:
- Selintas pikiran
- Tags:
1 Comment
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]