Rumah
Tempat ini saya sebut “rumah”.
Karena, di tempat ini lah.
Saya belajar merangkak.
Saya belajar duduk.
Saya belajar jalan.
Dan juga saya belajar berlari.
Di tempat ini lah, saya jatuh dari sepeda.
Di tempat ini juga, saya dicerca maki oleh ibu saya yang khawatir melihat luka di sekujur tubuh saya akibat jatuh dari sepeda tersebut.
Tempat ini saya sebut “rumah”.
Karena, di tempat ini lah.
Saya bertemu dengan teman-teman masa kecil saya.
Saya bertemu dengan orang-orang yang menjadi teman saya dalam jangka waktu paling lama dalam hidup saya.
Saya bermain dengan mereka.
Saya tertawa bersama mereka.
Saya kabur dari kejaran orang-orang yang marah akibat ulah iseng kami.
Beberapa kali saya ditipu oleh mereka.
Beberapa kali di antara kami juga ada yang bertengkar.
Dan, yang tidak akan pernah saya lupakan.
Bersama mereka, saya main di lapangan coklat berlumpur di kala hujan.
Berjuang memperebutkan bola yang bergulir ke segala arah.
Dibanjiri keringat yang tertutup oleh hujan yang turun dengan deras.
Yah, teman masa kecil, di mana kelakuan bodoh yang kami lakukan selalu kami anggap keren saat itu.
Tempat ini saya sebut “rumah”.
Karena, di tempat ini lah.
Saya bisa kabur dari masalah di kehidupan dewasa saya.
Tempat terakhir yang pasti akan saya tuju ketika saya telah lelah berjalan nanti.
Sebuah tempat paling nyaman untuk saya beristirahat kapan pun dalam kondisi seperti apapun.
Tempat yang sederhana.
Tidak perlu dihiasi oleh lampu-lampu kristal mewah.
Seonggok kasur di pojok kamar.
Nasi, tempe, tahu, dan sambal tertata rapi di atas meja makan.
Diiringi teriakan-teriakan anak kecil yang terkadang menjengkelkan.
Cukup.
Semua kesederhanaan itu telah cukup bagi saya untuk menyebut tempat ini sebagai sebuah rumah.
Tempat ini saya sebut “rumah”.
Karena, di tempat ini lah.
Ada orang tua saya.
Ada adik-adik saya.
Ada kakek-nenek saya.
Ada saudara-saudara saya lainnya.
Orang-orang yang berbagi darah dengan saya.
Orang-orang yang menyaksikan saya tumbuh dari semenjak saya dilahirkan oleh ibu saya hingga saya dewasa saat ini.
Orang-orang yang pastinya merupakan orang-orang yang selalu menjadi penyemangat hidup saya sampai saat ini.
Orang-orang yang terus menerus membantu saya dalam kondisi apapun.
Terutama, orang yang merupakan sosok paling pahlawan dalam hidup saya.
Seorang wanita yang terus menerus berjuang membahagiakan saya.
Ya, Ibu saya, Mama, seperti saya biasa memanggilnya.
Orang paling berarti dalam hidup saya.
Dimana dia berada, saya yakin, saya telah pulang ke rumah saat itu juga.
Lalu, ketika.
Saya menoleh ke kiri dan kanan.
Menatap apa yang ada di sekeliling saya.
Bagaimana apabila, saya tersadar bahwa.
Kenangan itu tak ada lagi.
Teman masa kecil saya tak ada lagi.
Kesederhanaan dan kenyamanan itu tak ada lagi.
Keluarga saya tak ada lagi.
Semuanya telah tak ada.
Akankah, tempat ini masih saya sebut sebagai “rumah”?
About this entry
You’re currently reading “Rumah,” an entry on Continuous Stirred Tank Reactor
- Published:
- July 30, 2011 / 00:49
- Category:
- Selintas pikiran
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]