Abu-abu

Saat ini, saya sedang berada dalam sisi abu-abu saya.
Tidak hitam, tidak pula putih.
Dan justru, biasanya, di saat tengah seperti ini lah.
Saya mulai berpikir.
Hal-hal sepele yang terkadang tidak mudah untuk dijawab.
Seperti, manusia seperti apakah saya ini?

Saya tidak memutuskan bahwa saya ini orang baik.
Tapi, saya bukan orang jahat pula.
Saya terkadang bingung, untuk apa pula saya masih menginjakkan kaki saya di muka bumi sampai saat ini?
Terkadang, langkah saya pun rapuh.
Tapi, nyatanya, saya sampai saat ini masih hidup.
Penyakit sesakit apapun berhasil saya lewati.
Cobaan seperti apapun berhasil saya tahan.
Dinding setebal apapun berhasil saya terobos.
Yah, tidak selamanya hidup saya kelam.
Malah, saya merasa akhir-akhir ini hidup saya gemilang.

Oleh karena itu, saat ini saya abu-abu.
Saya tidak bisa berkata saat ini saya senang.
Akan tetapi, saya tidak sedih pula.
Netral, tengah, antara, abu-abu.
Sedikit demi sedikit kegelapan yang ada di dalam diri saya mulai terang.
Tapi, yah, ini masih pertanda.
Semoga saja ini terus berlanjut.

Abu-abu.
Warna ini hangat.
Tentram.
Warna yang menyejukkan hati.
Mungkin tidak menurut anda, tetapi iya menurut saya.
Entah kenapa, saya mulai menyukai warna ini.
Karena mencerminkan pihak yang netral.
Bukan elektron, bukan juga proton.

Hidup saya terasa ringan akhir-akhir ini.
Dan saya sangat bersyukur akan hal tersebut.
Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menggapai apa yang saya inginkan.
Saya hanya bisa berdoa, semoga usaha saya ini lancar.
Dan semoga, saya tidak lepas kontrol lagi.
Kalaupun ternyata di akhir nanti ternyata saya salah atau gagal, saya ingin terus bertahan.
Tidak menyalahkan orang lain, ataupun diri sendiri.
Karena hidup hanya satu kali.
Saya ingin menghargainya.
Dengan penuh kehangatan.
Seperti warna abu-abu.

Advertisement

About this entry