Sleep paralysis

Pernahkah anda merasa ketika anda baru saja tertidur.
Atau, ketika anda baru saja ingin bangun dari tidur.
Tiba-tiba, anda sudah merasa diri anda sadar, akan tetapi seluruh anggota tubuh anda tidak dapat digerakkan.
Anda juga tidak bisa untuk berbicara ataupun berteriak selama sesaat.
Selain itu, terkadang anda juga merasa melihat sesosok bayangan/orang di dekat anda, atau juga mendengar suara-suara berisik.
Yang cukup mengerikannya pula, kondisi tersebut berlangsung selama beberapa detik sampai dalam hitungan menit.
Dan ketika seluruh tubuh anda sudah dapat digerakkan lagi, anda akan merasa panik dan nafas sangat memburu.

Secara mitos, banyak orang yang menyebutnya dengan istilah “ketindihan”.
Karena memang, pada kondisi tersebut, kita merasa tubuh kita tidak dapat digerakkan sama sekali.
Seakan-akan sedang ditindih oleh sesuatu yang tidak dapat kita lihat.
Banyak yang mengaitkan kejadian tersebut dengan makhluk gaib.
Akan tetapi, ilmu pengetahuan yang sudah berkembang saat ini, dapat menjelaskan peristiwa tersebut sebagai suatu gangguan tidur yang disebut dengan istilah: “Sleep paralysis”.

Saya termasuk ke dalam salah satu orang yang sering mengalami hal tersebut.
Kejadian yang cukup mengerikan ini mulai saya alami ketika saya berada dalam tingkat SMA.
Bahkan, cukup sering terjadi saat itu.
Dan sekarang, ketika saya berada dalam masa-masa kuliah, kondisi tersebut mulai berkurang jauh frekuensinya.
Akan tetapi, beberapa kali masih sering saya alami.
Halusinasi yang terjadi dalam kasus saya adalah saya selalu mendengar suara-suara berisik atau gaung-gaung yang cukup mengerikan.
Dan, beberapa kali, saya juga sering merasa ada seseorang ada di dekat saya, seakan-akan orang tersebut sedang mengisengi saya.
Apabila dihitung, saya mengalami “Sleep paralysis” sebanyak lebih dari 10 kali dalam setahun.
Menurut saya, sebenarnya secara biologis kondisi tersebut tidak berbahaya sama sekali.
Namun, kondisi tersebut sangat tidak bagus untuk kondisi psikis.
Karena apa?
Karena saya sering sekali menjadi tiba-tiba terbangun dengan perasaan panik dan nafas yang sangat memburu.
Dan tentu saja, saya sangat terganggu apabila gangguan tidur tersebut sedang terjadi.

Berikut ini, saya lampirkan dua artikel tentang fenomena “Sleep paralysis” ini.
Satu dalam bahasa indonesia, dan satu dalam bahasa inggris.
Semoga dapat bermanfaat bagi anda yang pernah/sering mengalaminya juga seperti saya.

Judul: ‘Ketindihan’ Ketika Tidur : Mitos atau Ilmiah?!
Sumber: http://forum.um.ac.id/index.php?topic=1702.0

“Ketindihan lagi nih kayaknya..” Itulah kalimat yang keluar dari mulutku saat tiba-tiba terbangun dari tidur malam hari ini. Padahal sebelumnya aku hanya berencana istirahat sejenak setelah selesai makan dan berpetualang di dunia ‘virtual’, sebab malamnya aku ingin mengerjakan tugas yang belum selesai. Saat itu mata ini tiba-tiba saja mengantuk, akhirnya ku putuskan segera berpindah ke singasana peristirahatanku. Kalau tidak salah saat itu waktu menunjukkan pukul 9-an malam ketika aku mulai memasuki dunia mimpi. Namun, saat waktu mulai merangkak tengah malam, tiba-tiba antara sadar dan tidak sadar dan antara ada dan tiada, aku mengalami kondisi yang aneh, kurasakan seluruh tubuhku kaku dan tidak bisa digerakkan, terasa ada benda atau sesuatu yang menindihku. Untuk menggerakkan kelopak mata dan satu jari saja rasanya sulit sekali. Rasanya seperti terikat oleh lilitan tali di sekujur tubuhku. Aku mencoba sekuat tenaga untuk bangun, tetapi apa daya aku tidak mampu.

Aku tersadar sepertinya aku mengalami kondisi ‘ketindihan’, akhirnya aku berdoa kepada Tuhan minta diberi kekuatan dan perlindungan dari-NYA. Dan.. akhirnya aku bisa terlepas dari kondisi mengerikan itu, aku bangun dari tidur dengan kondisi tubuh yang berkeringat dan napas yang tersengal-sengal. Sungguh pengalaman bangun tidur yang tidak enak rasamya. Kulihat jam weker ku, ternyata waktu menunjukkan pukul setengah satu lewat dini hari. Aku beranjak dari tempat tidurku mengambil segelas besar air minum untuk mengisi kembali cairan yang hilang dari tubuhku akibat berkeringat. Aku kembali termenung memikirkan kejadian yang kualami ketika tidur tadi. “Sepertinya ketindihan lagi, ya?!” jerit batinku. Aku baru sadar sepertinya aku tidak berdo’a tadi sebelum tidur. Di depan meja belajarku, sambil termenung aku terus memikirkan kejadian itu. Sebab kejadian yang kualami itu sungguh aneh tapi nyata. Adapun keanehan yang kualami saat dalam kondisi yang tidak dapat bergerak itu, aku merasa ada sosok makhluk yang mendekap keras dadaku dengan kedua tangannya, terasa ada hembusan napas yang mengarah ke wajahku, rasanya panas sekali sehingga membuat bagian sekitar wajah dan leherku penuh dengan keringat.

Selain itu, dalam kondisi seperti itu, aku masih sempat mendengar canda ria suara teman-teman di ruang utama wisma tempat tinggalku. Dan, kenyataannya memang begitu, teman-temanku memang sedang menonton film komedi di ruang utama, mereka semua tertawa dan bercanda ria di ruangan itu. Berarti, yang kudengar dan kurasakan itu bukan mimpi, tapi nyata dan aneh adanya. Lantas siapakah sosok yang mendekap dan menindih tubuhku itu sementara aku hanya sendirian di dalam kamarku?! Apakah ini adalah perbuatan usil dari sosok yang tak diketahui jelas definisinya itu, ataukah reaksi itu hanya ilusi dan halusinasi saja bagiku?! Aku tidak mengetahuinya secara pasti. Yang aku tahu bahwa kondisi ’ketindihan’ yang kualami ini memang merupakan salah satu mitos yang beredar di kalangan masyarakat dan sangat erat dikaitkan dengan dunia klenik, gaib, dan dunia mistis lainnya. Namun, sebenarnya aku tidak percaya hal itu, aku selalu berusaha mengaitkan kejadian apapun (termasuk hal ini) secara logika dan ilmiah, sehingga aku tidak men-salah-arti-kan kejadian dengan hal-hal yang dapat merusak citra pikiran dan pem-bodoh-an dari sudut pandang apa pun. Namun, kondisi yang kualami ini nyata adanya, sepertinya aku mulai bingung dan terbius mempercayai bahwa nilai-nilai mitos itu berjalan seimbang dengan logika dan ilmiah melalui kejadian ini.

Nah, Bagaimana dengan anda sendiri?! Pernahkah anda mengalami kondisi “ketindihan” ketika tidur? Pernahkah anda tidur, kemudian anda merasa terjaga dari tidur, namun tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk bergerak? Itulah yang disebut dengan “Ketindihan” (menurut kebanyakan orang). Ketindihan adalah kata atau istilah yang seringkali diungkapkan untuk menganalogikan suatu keadaan ketidakmampuan bergerak atau ketidakmampuan kontrol terhadap otot-otot tubuh pada saat terjaga (atau merasa terjaga) dari tidur. Kebanyakan orang menghubungkan kejadian tersebut dengan gangguan jin, hantu, setan, atau makhluk dari ‘dimensi’ lain. Namun sebagian lagi hanya menghubungkannya dengan sirkulasi darah yang tidak teratur akibat salah posisi dalam tidur. Bagi para ahli kedokteran dan psikologi, kejadian atau peristiwa ini mereka sebut dengan “Sleep Paralysis“.

Apakah Sleep Paralysis Itu?

Menurut medis, sleep paralysis alias tidur lumpuh (tubuh tak bisa bergerak atau serasa lumpuh) adalah keadaan yang dialami seseorang ketika akan tidur atau bangun tidur kemudian merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak. Gejala yang awam dirasakan oleh orang yang pernah mengalaminya adalah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak. Rasanya ada yang menindih tubuh, tapi tidak bisa berbuat sesuatu untuk minta tolong. Biasanya, akan ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali. Keadaan ini dialami hampir setiap orang baik pria maupun wanita. Usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur sleep paralysis ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung hanya dalam hitungan detik hingga hitungan menit.

Namun hal yang menarik dari mitos ketindihan ini adalah saat ketindihan seseorang sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran kemudian fenomena ketindihan ini pun sering dikait-kaitkan dengan hal-hal mistis. Secara singkat, sleep paralysis adalah kelumpuhan sementara yang terjadi sesaat sebelum atau sesudah tidur. Kelumpuhan ini hanya berlangsung beberapa saat, dan bisa segera hilang jika seseorang memanggil nama kita dengan perlahan. Di dunia Barat, fenomena ketindihan ini sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan atau halusinasi yang muncul. Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas [dapat dilihat pada gambar di atas]

“Sleep Paralysis” secara umum memiliki gejala-gejala sebagai berikut :
1. Ketidakmampuan menggerakkan tubuh dan otot saat tidur atau terjaga dari tidur.
2. Kadangkala disertai halusinasi dan kejadian seperti mimpi.
3. Kadangkala terjadi beberapa kali atau berulangkali dalam satu periode tidur.

Apakah Penyebab Sleep Paralysis?

Penyebabnya cukup banyak. Terkadang otak manusia melakukan kesalahan ini tanpa sebab, sehingga orang-orang sehat pun bisa mengalami kondisi ini. Trauma juga bisa menyebabkan sleep paralysis. Orang-orang Kamboja yang menjadi pengungsi karena perang, tercatat sering mengalami sleep paralysis. Bahkan bisa tiga kali dalam seminggu. “Hantu-hantu” yang mereka lihat juga cukup beragam, dari tengkorak yang mencekik leher, sampai anggota keluarga yang sudah meninggal. Orang-orang yang memiliki gangguan kecemasan, seperti social anxiety juga lebih sering terkena sleep paralysis beserta halusinasi-halusinasinya. Begitu pula orang-orang yang percaya pada tahayul, perklenikan, dan dunia mistis lainnya.

Kurang tidur atau tidur yang tidak teratur juga merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami kondisi sleep paralysis. Menurut seorang peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, Al Cheyne, sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur yang terjadi di tahap rapid eye movement atau REM. Untuk diketahui bersama, berdasarkan gelombang otak, tidur dapat dibagi dalam 4 tahapan yaitu tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Ketika kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke tahap REM. Dan ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, ketika itulah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi. Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur, atau sedang dalam masa-masa begadang menyelesaikan tugas kuliah yang banyak. Maka kondisi ini pun pasti dialami jika faktor pemicunya seperti itu.

Apakah Sleep Paralysis Berbahaya?

Sleep paralysis memang kadang merupakan pengalaman yang sangat menakutkan. Tetapi, sebenarnya fenomena ini tidaklah berbahaya. Ketindihan awalnya seringkali dihubungkan dengan ”narcolepsy”, yakni kondisi neurologik dimana seseorang tidak mampu mengontrol tubuhnya saat tidur dan kadangkala bergerak dengan sendirinya. Akan tetapi kemudian muncul klaim bahwa ketindihan (Sleep Paralysis) juga terjadi pada orang yang tidak memiliki kasus ”narcolepsy”. Walaupun sebagian orang merasa khawatir dan takut saat kejadian, namun menurut para ahli hal ini tidaklah membahayakan.

Penelitian Stanford menunjukkan bahwa :
1. Beberapa orang yang memiilki kebiasaan tidur tidak teratur seringkali mengalami ”Sleep Paralysis”.
2. Sebuah study menunjukkan bahwa 35% orang yang biasa mengalami ”Sleep Paralysis” juga kadangkala mengalami kepanikan saat bangun tidur atau terjaga baik akibat mimpi ataupun kebisingan.
3. 16% orang yang biasa mengalami ”Sleep Paralysis” juga terbukti mudah panik. (walaupun presentasenya tidak cukup kuat untuk dihubungkan)

Bagaimana mencegah Sleep Paralysis?

Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi. Jika anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Hal ini akan membantu anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicunya. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat. Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam. Perlu diketahui juga, sleep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini. Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.

Adapun pencegahan secara umum dapat dimulai dengan mengatur pola tidur yang sehat, antara lain :
1. Tidur yang cukup, tidak berlebihan dan kekurangan.
2. Hindari tidur di waktu pagi dan sore.
3. Olahraga teratur (hindari waktu olahraga yang berdekatan dengan waktu tidur)
4. Kurangi stress
5. Tidur dengan waktu yang teratur

Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara

1. Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.
2. Di budaya China, disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.
3. Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.
4. Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.
5. Di budaya Islandia, disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.
6. Di budaya Turki, disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.
7. Di budaya Jepang, disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.
8. Di budaya Vietnam, disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.
9. Di budaya Hungaria, disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.
10. Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.
11. Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.

Nah, begitulah kurang lebih penjelasannya. Apakah ada yang masih bingung?! Apakah ada yang masih percaya dengan mitos dan masih berlandaskan pengaruh mitos yang beredar, mengingat kejadian yang pernah dialami serasa nyata. Bagaimana dengan pengalaman anda sendiri yang pernah mengalami kondisi ini?! Jadi, kesimpulannya adalah apakah kondisi ‘ketindihan’ atau sleep paralysis memang mitos yang nyata tapi aneh atau terdefinisi secara logika atau ilmiah sebagai salah satu gangguan dalam tidur, yang disebut dengan sleep paralysis. Nah, silahkan anda menyimpulkan sendiri.

Judul: Sleep Paralysis: Awake But Still Asleep oleh Hiro Takahashi
Sumber: http://serendip.brynmawr.edu/exchange/node/1740

A person may wake up and find himself unable to move or speak as if he is frozen. He also may hear footsteps, see a ghost-like creature, or feel someone sitting on his chest. Throughout the history, people considered this phenomenon as work done by evil spirits. However, the modern science can explain the terrifying event as a Sleep Paralysis.

A Sleep Paralysis is possibly a hereditary disorder in which one experiences very frightening seconds or minutes of total body paralysis with little respiration and eye movements. A victim in this state feels awake, but he cannot move or speak. In addition to the immobility, the common symptoms include feeling choked or suffocated, hearing strange noises like footsteps and voices, seeing beings or dark shadows, and feeling an existance of someone in the room. Although these symptoms often direct the victims to believe in ghosts, mistransmission of neural signals in the brain causes Sleep Paralysis. When a person sleeps, his brain sends signals to inhibit any muscle contraction. If he comes into consciousness before the brain sends signals to activate muscle contraction, he cannot move his body, and consequently, become “paralyzed”.

In order to understand how a body becomes paralyzed while the person is awake, it is necessary to understand sleep cycles. In a mammalian sleep, the brain activity undergoes two different states called non-REM (NREM) sleep and REM sleep, which differ very much from wakefulness. NREM and REM sleep alternate cyclically through the night; in human, about 80 minutes of NREM sleep starts a night of sleep, about 10 minutes of REM sleep follows, and this 90 minute cycle is repeated about 3 to 6 times during the night. During NREM sleep, a body produces few movement, but the body has capability of tossing about in bed and producing some other motor events, such as sleepwalking and sleeptalking. The cardiac-muscle contraction and breathing occur at a uniform rate, and the eyes move slowly. During REM sleep, on the other hand, heart rate, respiration rate, and blood pressure vary. The eyes move rapidly because most dreaming takes place in this period, and the sleeper probably “look” at the moving objects in a dream.

The brain’s control over muscles during REM sleep points out that in this period, a body is normally in the state of total paralysis, called a “nonreciprocal flaccid paralysis”. Probably to prevent a person from “acting out” a dream, the brain sends signals to inhibit any muscle contractions. Although some peripheral muscles, such as the muscles of the fingers and face, still twitch, the large skeletal muscles become relaxed, or “paralyzed” as a result. Some evidence supports that the motor paralysis of REM sleep protect against the acting out of one’s dreams. A patient who suffers from rare syndrome called REM Sleep Behavior Disorder lacks the normal nonreciprocal flaccid paralysis, and he acts out violent dreams during REM sleep, often with injurious consequences. For example, a 60-year-old surgeon dreamt that he was attacked “by criminals, terrorists, and monsters who always tried to kill him” and fighting against them in the nightmare, he was actually punching and kicking his wife who slept in the same bed.

A nonreciprocal flaccid paralysis during REM sleep is accomplished actively by postsynaptic inhibition of motorneurons. Although the exact process of motor inhibition is not clear, some neurotransmitters and hormones are known to generate the many components of REM sleep. Aministering physostigmine, an inhibitor of the catabolic enzyme, increases the concentration of acetylcholine within the neurons in the pons, making it possible to artificially generate and start REM sleep in the middle of NREM sleep. Carbachol, the cholinergic agonist, produces a period of REM sleep in cat when directly injected into the pontine tegmentum. The hormone melatonin, a “master hormone” that mainly controls circadian rhythms, also seems to play an important role in enhancing the REM state; the level of melatonin secretion by the pineal gland reaches its lowest during REM sleep. Such neurotransmitters and hormones probably activate or inhibit the activity of second messengers, which then activate or inhibit the third messengers, and so on till the last messenger inhibit the synaptic transmission or cause hyperpolarization of the motorneurons. And if, for some reason, the nervous or endocrine system continues to release the neural inhibitors, a person may experience Sleep Paralysis as he enters awakefully into or awakens directly from REM period.

While the modern neuroscience can describe the state of Sleep Paralysis as some errors of the neural transmission in the brain during REM sleep, a person who has seen or heard ghost-like figures/voices may easily believe that eveil spirits fully controlled his entire body. However, the images or noises, which the victim believes that he has seen or heard, are most likely hallucinations; and hallucinations, too, can result from the brain activity. In the 1960′s, the Canadian neurologist W. Penfield introduced that electrical stimulation of the temporal lobe can cause the auditory hallucinations in the wake state. The buzzing or ringing sounds in the ears and other auditory hallucinations are closely associated with the activity of the auditory cortex and involves the temporal lobe. During the early period of sleep paralysis, the activity of the temporal lobe increases significantly, sometimes inducing hallucinatory sense. Similarly, the visual cortex generates internal visual stimuli, causing the victim to “see” terrifying figures during the paralysis.

How an episode of Sleep Paralysis induces visual or auditory hallucinations is still not clear, but it seems to have a significant relationship with anxiety. For anxiety is a neurocognitive event closely related to both psychological and physical processes, the extreme anxiety or panic may cause the release of several different signal molecules that trigger all kinds of physical events. A person experiencing Sleep Paralysis feels mortal fear or extreme panic, and hence, the brain generates and releases internal visual or auditory stimuli, producing hallucinations.

Also, hallucinations during Sleep Paralysis may happen, for one keeps dreaming even after some parts of his brain wakes up directly from REM sleep. Since the nervous and endocrine systems continue to release the neural inhibitors which sustain the paralysis, it may be possible that those systems keep releasing the neural activators that stimulate dreaming. Thus, a person continues to “see” the images and “hear” the noises produced in the dream that he has just had in REM sleep from which he has awaken.

Understanding more neural concepts of Sleep Paralysis, some researchers now hypothesize that a very rare condition called Sudden Unexplained Nocturnal Death Syndrome (SUNDS) may closely relate to Sleep Paralysis. Upon the death, a SUNDS victim produces no body movement even though he experiences a myocardial infarction and strong breathing difficulties and should straggle in agony. The death may be caused by the extreme muscle atonia during Sleep Paralysis, which is so severe that even the cardiac muscles and the diaghragm paralyze.

Until I started researching on this subject, I have believed that the total paralysis of a body is due to an evil taking absolute control over the body. However, the interactions between neurons in the brain can explain this seemingly mysterious phenomenon in a scientific way. Although the explanation is not complete yet, for there are many unclear processes about Sleep Paralysis, the current hypothesis appears to reject the possibility of ghosts on this matter. Of course, it is impossible to completely disprove the existence of “spirits”, “minds”, or “God” affecting one’s behavior. Nevertheless, like Sleep Paralysis and SUNDS, many or the mysterious conditions and behaviors which are only explained in supernatural terms probably result from brain.


About this entry