And, here it comes, Mr. 2011!

Okeh.
Awalnya, saya merasa malam ini.
Malam tahun baru ini.
Akan berjalan biasa-biasa saja.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Tidak ada yang spesial.
Saya pun hanya merayakannya dengan di depan komputer.
Di dalam kamar.
Fine.
That’s not something wrong in there.
Hanya saja.
Itu semua masih anggapan saya.
Masih pikiran saya.
Masih firasat saya.

Kenyataannya.
Keadaan tidak berbeda jauh.
Saya ada di dalam kamar.
Saya ada di depan komputer.
Perasaan saya biasa-biasa saja.
Namun, tiba-tiba.
Saya terpikir:
Kirim SMS ucapan selamat tahun baru buat teman-teman TK07 ah.
Dan, saya pun mulai mengetik SMS.
Tidak perlu menggunakan bahasa-bahasa indah, berat, atau aneh.
Cukup menulis:
Selamat Tahun Baru 2011!!
Tapi, kalimat berikutnya, yang menghancurkan segalanya.

Saya baru ingat.
Tahun 2011 adalah tahun segalanya.
Tahun penentuan.
Bagi kami, TK ITB 2007.
Akhir dari penelitian kami.
Rancang pabrik.
Ujian komprehensif dan persiapannya.
Bikin yearbook.
Bikin video angkatan.
Pengumuman ujian komprehensif.
Lulus.
Wisuda.
Dan setelah itu.
Lepas.
Hilang.
Bebas.
Kami terjun ke dunia yang keras di luar sana.
Dunia kerja, ataupun dunia S2.
Dunia persaingan yang terkadang tidak kenal kawan dan lawan.
Dunia yang tidak memiliki suatu alur yang harus kita ikuti.
Dunia yang menurut saya: “That’s not my life”.

Ada 2 hal yang memberatkan di sini.
Pertama, perpisahan.
2007 lulus.
Itu artinya, kami semua akan pergi menemui jalan kami masing-masing.
Menjemput impian masing-masing.
Dan itu artinya, kami tidak akan bertemu lagi.
Mungkin dalam kurun waktu yang dekat.
Mungkin untuk jangka waktu yang cukup lama.
Mungkin setelah sekian lama sekali kami baru bertemu lagi.
Dan mungkin, saya tidak akan pernah bisa bertemu dengan salah satu keluarga saya di TK ITB 2007 hingga saya meninggal nanti.
Bagus apabila kami berpisah dalam kondisi baik-baik saja.
Bagaimana apabila kami berpisah dalam kondisi masih memiliki suatu masalah?
Lagipula, bukan hanya ke 2007 saja.
Tapi, itu berarti saya harus bersiap-siap untuk berpisah dengan.
Keluarga-keluarga saya di TK ITB 2008, satu angkatan di bawah saya yang saya banyak melibatkan diri dengan mereka.
Keluarga-keluarga saya di TK ITB 2009, terutama anak-anak maganger konservator yang paling dekat dengan saya.
Keluarga-keluarga saya di HIMATEK lainnya.
SEKRE HIMPUNAN MAHASISWA TEKNIK KIMIA ITB yang telah saya diami dan saya urus hingga 3 tahun lamanya.
Gedung Labtek Biru X yang menyimpan banyak kenangan.
Dosen-dosen, terutama dosen-dosen yang pernah membimbing saya.
Petugas TU yang apabila saya sedang bosan saya sering ke sana.
Ruangan SKTK.
Gedung-gedung di ITB yang lainnya.
Tempat-tempat makan di ITB.
Tempat-tempat makan di Bandung yang saya datangi selama ini.
Terutama Batagor Simpang Dago yang selalu setia saya ke sana.
Dan, yang paling terakhir.
Tempat paling berkenang bagi saya.
Yang menjadi saksi bisu suka duka saya dan teman-teman saya selama kuliah di ITB:
RUMAH DAN KAMAR KOSAN SAYA.
Itulah hal pertama yang memberatkan saya.
Perpisahan.
Saya benci perpisahan.
Karena, sebagian besar, perpisahan selalu diisi dengan sesuatu yang menyedihkan.
Walaupun tidak diisi dengan suasana yang sedih.
Pasti tetap ada sesuatu yang mengganjal di hati.
Seperti sebuah pertanyaan kecil dan sederhana yang tiba-tiba muncul:
Kapan saya bisa bertemu lagi dengan orang/barang/tempat yang baru saja saya pisahi tersebut?

Hal kedua, yang memberatkan saya adalah.
SAYA BELUM SIAP UNTUK LULUS KULIAH.
Saya merasa saya masih terlalu muda.
Umur 20 pun baru akan saya capai di tahun 2011 ini.
Saya masih belum punya tujuan hidup.
Apa yang ingin saya capai.
Hasrat hidup saya.
Masih belum saya temukan.
Saya masih mentah.
Bahkan sampai saat ini saya masih belum menentukan ingin melanjutkan kerja atau S2.
Bukan karena belum pernah memikirkannya.
Mungkin karena saya menunda-nunda hasil pemikiran tersebut.
Akan tetapi, lebih dikarenakan.
Saya merasa kedua hal tersebut tidak cocok dengan diri saya.
Bekerja.
Di sebuah perusahaan.
Terikat.
Memiliki atasan yang berumur jauh lebih tua dan berpikiran: “saya pasti lebih benar daripada anda”.
Jujur saja, saya tidak pernah merasa nyaman berinteraksi dengan orang yang lebih tua.
Saya lebih menyukai berinteraksi dengan yang berumuran sebaya dengan saya.
Hanya saja, memang keuntungannya, saya bisa mendapatkan uang.
Lalu, pilihan yang satunya lagi, S2.
Awalnya saya tertarik.
Tetapi, kemudian, saya baru mengetahui bahwa.
S2 untuk teknik pasti lebih berfokus ke penelitian.
Dan, setelah saya sadari di semester 7 kemarin:
SAYA TIDAK SUKA MELAKUKAN PENELITIAN.
Karena saya merasa tidak cocok.
Lagi-lagi, entah kenapa, saya tidak merasa sreg melakukan sebuah penelitian.
Tidak bisa bebas kemana-mana.
Harus diam saja memandangi atau mengukur sesuatu.
Itu membosankan.

Entahlah.
Oleh karena itu.
Seperti yang telah saya bilang.
Saya masih terlalu muda.
Saya masih manja.
Masih ingin bersenang-senang.
Apabila mengikuti jalur normal, harusnya sekarang saya baru akan memasuki semester 4.
Masih ada dua tahun bagi saya untuk menentukan masa depan saya.
Namun, sekarang kenyataannya, saya harus menentukan masa depan saya secepat mungkin.
Padahal, saya ini tipe orang yang let it flow saja.
Tidak terlalu ingin untuk memikirkan sesuatu ke depan.
Yang toh, hal tersebut tidak pasti.

Dan di detik-detik menuju tahun 2011 ini.
Saya sudah tidak bisa berharap banyak lagi.
Mau saya berteriak sekencang apapun.
Atau, mau saya mengeluh sepanjang apapun.
Tahun 2011 pasti akan datang juga.
Harus saya hadapi.
Dan, yah, mau tidak mau juga.
Saya harus belajar menjadi seorang dewasa secepatnya.
Bukan waktunya lagi saya bersenang-senang.
Jalan ke depan sudah pasti tidak ada yang menyenangkan.
Oleh karena itu.
Harapan saya di tahun 2011 ini adalah:
1. Bisa lulus dari Teknik Kimia ITB di waktu yang tepat
2. Dapat melalui segala perpisahan yang akan terjadi dengan hati besar
3. Secepatnya dapat menentukan ingin melanjutkan kerja atau S2
4. Menjadi orang yang lebih dewasa lagi, dapat berpikir dengan kepala dingin, dan tidak banyak mengeluh.

Okeh, jarang-jarang saya membuat sebuah resolusi.
Dan ternyata di tahun 2011 ini saya membuatnya.
Semoga saja, saya dapat memenuhi harapan-harapan saya tersebut.
AMIN!

And, ladies and gentlemen.
Here it comes, Mr. 2011!!

Advertisement

About this entry