Saya tidak butuh
Saya tidak butuh benang emas.
Yang dapat membuat baju saudagar raja.
Baju berkilau dan megah.
Mewah.
Mahal.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh raga raksasa.
Yang dapat membuat langkah melampaui gunung.
Langkah tegap dan pasti.
Besar.
Kokoh.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh cermin dewa.
Yang dapat membuat topeng si pelukis bintang.
Topeng ilusi yang mempesona.
Tampan.
Elegan.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh hati malaikat.
Yang dapat membuat jiwa suci di pagi hari.
Jiwa yang halus dan lembut.
Mulia.
Dermawan.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh otak brilian.
Yang dapat membuat perhitungan secepat tarikan nafas.
Perhitungan yang tepat dan dalam.
Jenius.
Tajam.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh seribu sekutu.
Yang dapat membuat prajurit pembasmi naga di hari itu.
Prajurit berani dan bertanggung jawab.
Kuat.
Cekatan.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh lawan bertarung.
Yang dapat membuat persaingan takdir menuju akhir.
Persaingan darah dan air mata.
Ketat.
Adil.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh kata-kata sejuk.
Yang dapat membuat hati terangkat tinggi ke udara.
Hati senang dan nyaman.
Bangga.
Tenang.
Saya benar-benar tidak butuh lelucon itu.
Saya tidak butuh semua itu.
Saya tidak butuh semua itu satu per satu.
Lalu, apa yang saya mau?
Saya mau semua itu.
Karena.
Saya EGOIS.
Saya MARUK.
Saya SERAKAH.
Saya TIDAK PEDULI DENGAN ORANG LAIN.
Saya MAU DIHARGAI.
Saya SOMBONG.
Saya IRI, dan.
Saya DENGKI.
About this entry
You’re currently reading “Saya tidak butuh,” an entry on Continuous Stirred Tank Reactor
- Published:
- December 24, 2010 / 00:31
- Category:
- Karya saya
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]